oleh Wira Purnama (Koordinator Fungsi Manajemen Risiko Dapen Semen Tonasa)
03 Desember 2024
Pensiun sering kali dianggap sebagai babak terakhir dalam hidup, momen ketika seseorang berhenti dari pekerjaannya dan menjalani hari-harinya dengan lebih tenang. Namun persepsi ini oleh sebagian orang yang memiliki angan-angan lebih besar menganggap bahwa Pensiun Bukanlah Akhir Segalanya , melainkan sebagai awal dari petualangan baru atau mungkin adalah kelanjutan dari mimpi-mimpi yang tertunda yang sudah dirintis beberapa tahun sebelum memasuki masa pensiun.
Melalui Jendela Inspirasi & Motivasi ini, Dana Pensiun Semen Tonasa (Dapen ST) akan mengangkat kisah inspiratif dari narasumber baik itu Peserta Dana Pensiun Aktif maupun Pasif atau dari pihak diluar Dana Pensiun yang memiliki pengalaman berharga untuk dibagikan melalui website Dapen ST. Melalui rubrik ini diharapkan Peserta Dapen ST dapat menambah wawasan dan semangat baru, karena pensiun seyogyanya adalah kesempatan untuk menemukan kembali hobi lama, mengeksplorasi minat baru, dan juga memberi kontribusi pada masyarakat, sembari terus menerus melakukan kebaikan dan ibadah kepada Allah Rabbul Alamin, Tuhan Semesta Alam yang telah menganugerahkan kesempatan hidup sampai dengan masa pensiun, sehingga segala kegiatan di masa pensiun dapat memenuhi konsep pensiun yang penuh Rahmat dan Barokah dunia dan akhirat.
Edisi kali ini akan mengangkat pengalaman dari salah seorang narasumber Peserta Pensiunan Dapen ST yang sukses dalam usaha peternakan ayam petelur. Beliau adalah Ir. Muhammad Rustam, karyawan PT Semen Tonasa yang telah pensiun sejak tanggal 01 Oktober 2023. Sebelumnya, Beliau berkarir di PT Semen Tonasa selama 25 tahun mulai tahun 1998 - 2023. Beberapa jabatan yang pernah diduduki antara lain Manajer Sistem Manajemen, Manager K3, dan terakhir Manager Internal Audit.
Mendampingi hidupnya dalam suka dan duka, Pak Rustam panggilan akrabnya, memiliki seorang istri bernama Fatmawati, SE. Ibu Fatma pernah berkarir sebagai dosen di Perguruan Tinggi di Makassar yang akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dan memutuskan mendampingi suami dalam mengelola peternakan ayam potong dan ayam petelur secara full time. Satu hal lagi yang menarik dari ibu Fatmawati adalah lebih memilih untuk tidak memiliki media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain-lain yang bagi sebagian orang menjadi keharusan untuk bergaul di dunia modern saat ini. Namun bagi ibu Fatmawati saat ini dirinya belum membutuhkan hal tersebut, kecuali media Whatsapp yang masih tetap Beliau gunakan untuk menjalin silaturahmi. Ibu Fatmawati saat ini lebih memilih fokus untuk membantu suami memajukan peternakan ayamnya yang sekarang ini berkembang cukup pesat. Dari pernikahannya, Pak Rustam dan Ibu Fatmawati dikarunia empat orang putri yang telah beranjak dewasa dan beberapa bahkan menempuh pendidikan S2 di Perguruan Tinggi di Indonesia.
Melanjutkan misi mewawancarai Pak Rustam, suatu Qodarullah ditengah-tengah kesibukannya mengurus peternakan ayam petelur, beliau masih bersedia menerima penulis di area peternakan pada hari Senin, tanggal 03 Desember 2024 jam 10.00 pagi tepat, ketepatan waktu dan janji bertemu yang detail, mencerminkan jiwa kedisiplinan yang dimiliki dalam pengelolaan bisnis yang digelutinya.
Jarak tempuh ke lokasi peternakan Pak Rustam berjarak sekitar 7 km atau sekitar 15 menit dari Kantor Pusat PT Semen Tonasa, lokasi peternakan tepatnya berada di daerah Batiling Desa Batara.
Sesampainya di area peternakan, nampak tiga kandang ayam terhampar berjejer rapi dan asri dikelilingi oleh pohon-pohon hijau seperti Kelor, Mangga, Pepaya, Nenas, Ubi, dll.
Penulis disambut hangat oleh Pak Rustam dan istrinya. Sifat familiar dan gemar bercanda menjadikan Pak Rustam masih terlihat awet muda, Penulis pun disambut dengan tertawanya yang khas seperti layaknya pada saat masih menjadi karyawan aktif. Sembari Pak Rustam & istrinya melayani bincang-bincang wawancara dengan penulis selama kurang lebih 2 jam, suguhan kue-kue khas bugis Makassar dan makan siang rumahan turut dihidangkan yang dibuat sendiri oleh Ibu Fatmawati menambah rasa ingin bersilaturahmi lebih lama lagi.
Perjuangan beliau dalam memulai bisnis sebenarnya sudah dirintis sejak sepuluh tahun sebelum pensiun dengan mendirikan sebuah CV bernama CV Rayhana, yang dipimpin oleh istrinya Ibu Fatmawati dan telah melayani jasa konstruksi dan maintenance di beberapa perusahaan seperti PT. Semen Bosowa, CPI, dan lain-lain.
Tahun 2015 Pak Rustam dan Istri mencoba membuka usaha ayam potong dengan melakukan kerjasama mitra (pakan, obat) dengan pemilik modal . Secara bertahap jumlah ayam potong yang dikelola sebanyak 2000 ekor, meningkat 3000 ekor, dan akhirnya 4000 ekor. Setelah berjalan empat tahun bermitra, dan setelah mengkaji untung rugi dengan kerjasama modal, ternyata net profit margin (laba bersih) yang diterima relatif kecil hanya sekitar Rp 7 juta rupiah per 1 race (1 kali panen) dan maksimum 30 hari seluruh ayam ayam habis terjual. Dengan pertimbangan laba yang relatif kecil dari hasil bermitra, akhirnya Pak Rustam berupaya mempelajari bisnis peternakan ayam petelur yang cukup menjanjikan dari sisi efektifitas dan potensi laba yang akan dihasilkan . Selain itu juga untuk mengoptimalkan modal yang sudah terkumpul dan dinilai cukup untuk ekspansi ke bisnis ayam petelur.
Tahun 2019 tepatnya bulan Oktober, Pak Rustam membeli tanah sekitar 1,5 Ha di daerah Batiling Desa Batara. Tahun 2020 mulai membangun kandang ayam petelur pertama dengan kapasitas 3000 ekor ayam petelur modal + Rp. 300 juta. Tahap berikutnya dibangun kandang kedua dan ketiga sehingga total kapasitas kandang sekarang sekitar 9000 ekor ayam petelur. Desain kandang dilakukan sendiri oleh Pak Rustam berdasarkan inovasi dan ilmu ATM (amati, tiru, modifikasi) dan juga berdasarkan pengalaman beliau dalam ilmu konstruksi dengan latar belakang D3 dan S1 Konstruksi.
Tahun 2021 peternakan ayam potong dihentikan dan fokus ke peternakan ayam petelur dengan pertimbangan peternakan ayam petelur lebih efisien dan memberikan margin keuntungan yang lebih baik. Menurut Pak Rustam peternakan ayam potong pengelolaannya 24 jam, sedangkan ayam petelur hanya sampai Pkl. 22.00 malam lampu sudah bisa dimatikan .
Tahun 2023 Pak Rustam pensiun dari PT. Semen Tonasa dan lebih fokus lagi dalam mengembangkan dan mengelola peternakan ayam petelur nya. Total aset investasi peternakan ayam petelur yang dimilili Pak Rustam saat ini mencapai Rp. 3 Milyar, Pak Rustam mempekerjakan empat orang karyawan, dan dari peternakan itu dapat menghasilkan sekitar 300 rak telur per hari.
Pemasaran mencakup wilayah lokal Sulsel (Pangkep, Maros, Barru, Pinrang, dll) sekitar 40% dan pemasaran keluar Sulsel (Kalimantan, Papua, Ternate) sekitar 60%. Mekanisme penjualan didominasi dengan konsumen dan pedagang datang ke kandang membeli telur atau dengan metode FOT (free on truck). Total keuntungan bersih (net profit margin) per bulan sekitar Rp 20 juta sampai dengan Rp 40 juta.
“Mengelola pertenakan ayam petelur tidak lepas dari integrasi disiplin ilmu yang diimplementasikan yaitu aspek Operasional, Maintenance, K3, Manajemen Risiko, dan Sosial CSR” kata Pak Rustam sambil menghisap rokok dan ketawa terkekeh ciri khasnya.
Tentunya selama menjalankan usaha banyak kendala yang dihadapi seperti masalah tenaga kerja, tenaga kerja yang curang dan tidak jujur, masalah distribusi, masalah sosial seperti pencurian, dll. “Semua kendala ini tentunya harus dimaintain dengan ilmu dan konsisten dalam pengelolaan. Sebagai contoh Kendala aspek sosial CSR misalnya harus dimaintain dengan konsep perbanyak sedekah kepada masyarakat sekitar, dan mempekerjakan masyarakat sekitar. Kendala aspek SDM tenaga kerja dimaintain dengan cara mempekerjakan dengan hati dan kekeluargaan namun tetap harus disiplin dalam hal punishment dan reward kepada pekerja, seperti memberikan penghasilan yang cukup dan jaminan makan minum yang gratis kepada karyawannya. Kendalal Operasional dimaintain dengan inovasi alat pencampuran pakan ayam, pemasangan CCTV. “ ujar dia dengan semangat.
Menurut Pak Rustam, “sukses bukanlah hal yang instan, kejarlah mimpimu yang tertunda”. Dari pengalaman Pak Rustam ini, pelajaran penting yang dapat diteladani yaitu sebagai wirausahawan sejati adalah “jeli melihat peluang, percaya diri, ketekunan, berpikiran positif, berani mengambil risiko, jangan takut rugi, belajar dan belajar ilmu bisnis, kolaborasi dengan istri dan anak-anak, jangan lupa selalu bersyukur atas nikmat Allah, perbanyak sedekah terutama kepada masyarakat sekitar.” ujarnya, menutup sesi wawancara.